Minggu, 20 Januari 2013

Sejarah Masuknya dan Berkembangnya Islam di Indonesia




Proses Masuk dan Berkembangnya Islam  di Indonesia

            Lingkungan alam Indonesia yang terdiri dari gugusan pulau-pulau dan kekayaan sumber daya alamnya, serta tata letak yang berada dijalur perdagangan dan pelayaran dunia, ternyata membawa pengaruh yang besar bagi perubahan masyarakat di Indonesia. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi dalam lingkup budaya tetapi juga menyentuh sisi sosial masyarakatnya.
            Jauh sebelum masuknya pengaruh Islam ke Indonesia, bangsa ini sudah mengadakan hubungan dengan bangsa lain. Antara abad ke 1-2 M bangsa Yunani telah mengenal wilayah Nusantara, abad ke 3 M orang Persia juga masuk kewilayah Nusantara, hingga masuknya pengaruh Hindu-Budha pada abad ke 4 M.
            Dari uraian di atas ada satu hal yang dapat kita petik, bahwa sebenarnya proses masuknya berbagai pengaruh budaya berawal dari kontak ekonomi melalui perdagangan dan pelayaran. Demikian pula yang terjadi dengan proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia.

Kapan Islam Masuk ke Indonesia? 
             
1.      Pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia sejak abad VII-VIII, pernyataan ini di dasarkan pada pedapat:
a.    D.G.E. Hall  dalam bukunya yang berjudul “The history of South East Asia” disebutkan bahwa sejak abad ke 7 M banyak pedaggang Arab Muslim yang melakukan hubungan dagang dengan beberapa kerajaan di Indonesia.
b.   Hamka, menyatakan Islam masuk ke Indonesia sejak abad 7-8 M dengan alasan: adanya orang-orang Arab (Islam) yang memegang peranan penting diselat Malaka, adanya Istilah Kalah (Kedah, Kra, Klang) yang merupakan kota pertemuan pedagang Arab dan Tiongkok (Islam), Serta adanya kronik (catatan perjalanan) Cina tentang utusan raja Ta Chi/ Ta Cheh ke Cho po (Jawa)- Ho ling (kalingga). Pernyataan ini didukung oleh H. Agus Salim, Zaenal Arifin Abas, dan T.W. Arnold.
c.    A. Hasjmy  berdasarkan keterangan Dr. Ilyas Ismail ( Imam Besar Masjid  Manila) Islam masuk ke Aceh Besar pada masa Ustman bin Affan. Keterangan ini didasarkan pada catatan pedagang Arab dalam naskah tua di Manila.
d.         Wan Hussein Azmi menyatakan bahwa dakwah Islamiah mulai lahir di alam melayu dalam lingkungan tahun 630 M. Pernyataan ini didasarkan pada catatan Cina yang menyatakan bahwa dari tahun 630-655 M terdapat hubungan diplomatic antara kerajaan Taa Chi dengan Cina.

2.      Pengaruh Islam masuk ke Indonesia mulai abad ke XI, hal ini didasarkan pada temuan  adanya makam Islam dari Fatimah Binti Maemoon di Leran, Gresik yang berangka tahun 475 H atau 1082 M.

3.      Pengaruh Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke XIII, adapun tokohnya adalah:
a.    Snouck Hurgronje, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13. Hal ini didasarkan pada catatan Marcopolo (1291) dan Ibnu Batutah tulisan yang menunjukkan angka tahun pada nisan Sultan malik Al  Saleh (1297).
b.   N.J. Kroom, peralihan masuknya Islam ke Nusantara berlangsung antara tahun 1292-1927.
c.    H.J. Van den Berg, Islam masuk ke Sumatra kira-kira tahun 1300, hal ini didasarkan pada riwayat perjalanan Marcopolo.
d.         R. Soekmono, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13 M, pernyataan ini didasarkan atas nisan Sultan Malik Al Saleh (1297).

Darimana Asal Islam yang Masuk ke Indonesia?

Berkaitan dengan asal kedatangan Islam ke Indonesia maka muncul beberapa pendapat mengenai asal Islam yang masuk ke Indonesia, antara lain:
  1. Datang dari India
Sebagian besar sarjana Barat menyebutkan  Islam yang datang ke Indonesia berasal dari India (Gujarat, Malabar, Decan). Adapun beberapa beberapa dari sarjana tersebut adalah
a.       Pijnapel, berpendapat bahwa Islam berasal dari Gujarat. Hal ini didasarkan pada persamaan maszab ( maszab Syafi’i)
b.      Snouck Hurgronje, berpendapat Islam berasal dari Decan baru kemudian disusul oleh orang-orang Arab keturunan Muhammad. Ia juga menyebutkan bahwa Islam di Nusantara sudah mengalami proses Hinduisasi.
c.       Moquette, berpendapat bahwa Islam berasal dari Gujarat. Hal ini didasarkan pada temuan Nisan berlanggam Cambay, Gujarat.
d.      Windstet, berpendapat bahwa Islam berasal dari Gujarat. Hal ini didasarkan pada temuan nisan di Pasai, Gresik, dan Malaya yang berlanggam Gujarat.

  1. Berasal dari Coromandel
Teori ini disampaikan oleh Morrisson, sekaligus sebagai sanggahan terhadap teori Moquette. Ia mengatakan secara tegas bahwa temuan nisan di Samodra Pasai lebih tua umurnya (698 H) bila dibandingkan dengan keberadaan Gujarat Islam (699 H).
     
  1. Islam berasal dari Arabia, Mesir
Dalam teori ini dikatakan bahwa Islam yang ada di Indonesia berasal dari Arabia dan Mesir. Adapun tokohnya adalah
1.      T.W. Arnold, menyatakan Islam berasal dari Arab. Pernyataan ini didasarkan pada kronik Cina tentang adanya pemukiman Orang arab  di pesisir pantai Sumatra pada abad ke 7.
2.      Hamka, menyatakan Islam berasal dari Arab, Mesir. Pernyataan ini didasarkan pada: Gelar yang dipakai raja Pasai sama dengan gelar raja Mesir dari dinasti Mameluk yaitu Al Malik; Adanya mazab Syafi’I di Indonesia yang juga dianut oleh bangsa Arab, Mesir; adanya  kata Malabar/ Mu’tabar yang lebih dekat dengan arti pantai untuk para penyeberang.
3.      Keijzer, berpendapat bahwa Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari Mesir. Hal ini didasarkan pada persamaan mazab yaitu Syafi’i.
4.      Naquib al Atas, berpendapat bahwa Islam berasal dari Arab, Mesir. Tokoh ini dalam pendapatnya secara tegas menentang Moquette, karena nisan diambil hanya atas pertimbangan ekonomi; gelar raja yang dipakai juga berasal dari Arab atau Persia bukan India; adanya Historiografi local tentang hikayat raja-raja Pasai (peng-Islam-an Marah Silu oleh Syaikh Ismail); dan adanya riwayat Aceh yang di- Islam- kan oleh Syaikh Arif.

4.  Berasal dari Cina
Pendapat ini di kemukakan oleh Emanuel Godinho de Eradie yang menyatakan bahwa Islam telah diterima di Patani dan Pam diu Pantai Timur dan dikembangkan oleh Permaicuri (Parameswara) pada tahun 1411.

5.  Berasal dari Persia
      Teori ini disampaikan oleh P.A. Hoesin Djayadiningrat. Pernyataan ini didasarkan pada adanya pengaruh kebudayaan yang di bawa oleh para mubaligh-mubaligh Islam ke Indonesia, antara lain: Ejaan khas Parsi dan adanya huruf sin yang tidak bergigi.
      Pernyataan ini didukung oleh Mucas yang mengatakan kata Aceh berasal dari bahasa Parsi; dan Moens berdasarkan catatan Ibnu Batutah  (1345) yang menyatakan kedatangan 2 ulama Persia yaitu Sajuddin Asj Syirazi dan Sayid Syarif Al Ashabani.

Dari beberapa uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa Islam masuk dan berkembang di Indonesia di bawa oleh pedagang-pedagang Arab (Persia, Mesir), Gujarat dan Cina.

Bagaimana cara Islam disebarkan di Nusantara?

Ada beberapa kemungkinan mengenai cara Islam masuk dan berkembang di Nusantara, yaitu:
1.      Kontak dagang
Hubungan kontak dagang yang terjadi secara terus menerus membuka kesempatan masuknya unsure-unsur Islam dalam berbagai sendi kehidupan pada masyarakat pesisir, terutama pada Bandar-bandar yang ada di Nusantara. Terlebih pada saat para bangsawan atau adipati didaerah itu memeluk Islam.
2.      Perkawinan
Faktor alam sebenarnya merupakan factor yang sangat berperan dalam terjadinya perkembangan masyarakat Islam didaerah pesisir melalui perkawinan. Transportasi perdagangan yang dipakai pada saat itu (perahu layar) sangat bergantung pada angin dan cuaca. Biasanya untuk menunggu musim pergantian angin dan pertimbangan cuaca, sebagian dari pedagang akan tinggal untuk sementara dan ada pula yang menetap didaerah pesisir. Dengan demikian terbukalah kesempatan untuk terjadinya perkawinan dengan penduduk setempat. Sehingga lambat laun berkembanglah suatu masyarakat Islam di daerah pesisir.
3.      Keaktifan Dakwah Bangsa Indonesia
Keaktifan dakwah ini dilakukan oleh para ulama Indonesia sendiri dalam rangka meluaskan ajaran Islam diseluruh pelosok Nusantara, Seperti yang dilakukan oleh para wali di Jawa dan Datuk Ribandang di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur.

Mengapa Islam mudah diterima di Nusantara?

Jauh sebelum masuknya Islam kewilayah Nusantara, pengaruh Hindu dan Budha telah masuk lebih dahulu dan dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Nusantara dan sebagian lain masyarakatnya masih menganut system religi dalam bentuk animisme dan dinamisme.
Ada beberapa factor yang menyebabkan Islam dengan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara, antara lain:
  1. Syarat masuk Islam mudah, yaitu hanya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat tanpa adanya bentuk ritual tertentu.
  2. Islam disebarkan secara damai dengan menggunakan media budaya dan kesenian daerah.
  3. Islam bersifat demokratis; tidak mengenal kasta sehingga memberikan kesempatan kepada pemeluknya untuk mempelajari Islam seluas-luasnya dengan membaca kitab suci dan menyebarkannya kemasyarakat lain. Kesempatan ini tidak dimiliki dalam Hindu-Budha, karena yang boleh menyebarkan Agama dan membaca kitab suci hanyalah kaum Brahmana atau pendeta.
  4. Adanya konsep ketuhanan yang sublime
KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM NUSANTARA

1. PERLAK
            Perlak merupakan kerajaan Islam tertua di Indonesia. Kesimpulam ini didasarkan pada hasil seminar sejarah (1963 di Medan, 1978 dan 1980 di Banda Aceh).  Kerajaan Perlak didirikan pada tahun 225 H (840 M) dengan sultan yang pertama bernama Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah.
Sumber sumber dan bukti saejarah
1.      Sumber sejarah:
Sumber sejarah kerajaan Perlak didasarkan pada temuan naskah-naskah tua antara lain:
    1. Idharatul Haq fi Mamlakatil Ferlah wal Fasi karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy.
    2. Kitab Tazkirah Thabakat Jumu Sultan As Salathin karangan Syekh Syamsul Bahri Abdullah As Asyi.
    3. Silsilah raja-raja Perlak dan Pasai, catatan Saiyid Abdullah Ibn Saiyid Habib Saifuddin.
2.      Bukti Sejarah:
a.       Temuan mata uang Perlak baik yang berupa mata uang emas, perak dan tembaga
b.      Stempel Kerajaan
c.       Makam Raja Benoa
Raja-raja penguasa Perlak:
1.      Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225-249 H /840-864 M)
2.      Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdurrahim Syah (249-285 H/864-888 M)
3.      Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abbas Syah (285-300 H/ 888-913 M)
4.      Sultan Alaidin Saiyid Maulana Ali Mughayat Syah (302-305 H/915-918 M)
5.      Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdil Kadir Syah Jouhan Berdaulat (306-310 H/918-922 M)
6.      Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah Jouhan Berdaulat (310-334 H/922-946 M)
7.      Sultan Makhdum Alaidin Malik Jouhan Nerdaulat (334-361 H/946-973 M)
8a. Sultan Alaidin Saiyid Maulana Mahmud Syah (365-377 H/976-988 M)
8b. Sultan Makhdum Alaidin Malik Ibrahin Syah Jouhan Berdaulat (365-402 H/976-1012 M)
9.      Sultan Makhdum Alaidin Malik Mahmud Syah Jouhan Berdaulat (402-450 H/1012-1059 M)
10.  Sultan Makhdum Alaidin Mansyur Syah Jouhan Berdaulat (450-470- H/1059-1078 M)
11.  Sultan Makdum Alaidin Malik Abdullah Syah Jouhan Berdaulat (470-501 H/ 1078-1108)
12.  Sultan Makdum Alaidin Malik Ahmad Syah Jouhan Berdaulat (501-527 H /1108-1134 M) 
13.  Sultan Makdum Malik Mahmud Syah Johan Berdaulat (527-522 H/ 1134 – 1158 M
14.  Sultan Makdum Alaidin Malik Usman Syah Johan Berdaulat ( 522-565 H /1158-1170)
15.  Sultan Makdum Alaidin Malik Muhammad Syah Johan Berdaulat (565-592 H/1170-1196 M).
16.  Sultan Makdum Alaidin Malik Abdul Jalil Syah Johan Berdaulat (592-622 H/1196-1225)
17.  Sultan Makdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263)
18.  Sultan Makdum Alaidin Malik Adbdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M)

2. SAMODRA PASAI
            Kerajaan Islam Selanjutnya yang muncul di Nusantara adalah Samodra Pasai. Diperkirakan kerajaan ini baru menjadi sebuah kerajaan sejak abad ke 13 M sedang untuk pengaruh Islam-nya sudah masuk lebih dulu sejak abad ke 8 M. Letaknya yang strategis yaitu berada di jalur perdagangan dunia menyebabkan cepat menerima pengaruh Islam.
Adapun raja-raja yang memerintah Samodra Pasai:
  1. Sultan Malik Al Saleh (1285-1297 M)
  2. Sultan Muhammad Malik At Tahir (1297-1326 M)
  3. Sultan Ahmad Perumdal Malik As Zahir (1326-1348 M)
  4. Sultan Zainal Abidin Bahrian Syah (1348-1496)
Kerajaan ini mulai terjadi kemunduran sejak adanya penaklukan perluasan wilayah oleh kerajaan Majapahit.

3. MALAKA
            Kerajaan ini didirikan oleh Parameswara, seorang bangsawan ketuirunan Majapahit. Setelah menjadi raja, Ia bergelar Sultan Iskandar Syah. Ia memerintah kerajaan Malaka pada tahun 1296-1414. Dalam masa pemerintahanya Malaka mengalami perkembangan yang sangat pesat hingga menjadi salah satu pusat perdagangan di Nusantara. Setelah masa pemerintahannya berakhir, kekuasaannya dilanjutkan oleh: Sultan Muhammad Syah; Sultan Mudhafar Syah ; dan sultan Mansyur Syah.

4. ACEH
            Aceh sebenarnya merupakan kerajaan vassal (bawahan) dari kerajaan Pedir. Kerajaan ini Mulai melepaskan diri ketika Malaka jatuh ketangan Portugis. Adapun raja-raja dari Aceh adalah sebagai berikut:
  1. Sultan Ali Muhgayat Syah (1514-1528 M)
  2. Sultan Salahuddin (1528-1537 M)
  3. Sultan Alauddin Riayat Syah I (1537-1568 M)
  4. Sultan Husain (1568-1575 M)
  5. Sultan Alauddin Mansyur Syah (1577-1586 M)
  6. Sultan Ali Riayat Syah I (1586-1588)
  7. Sultan Alauddin Riayat Syah II (1588-1604 M)
  8. Sultan Ali Riayat Syah II (1607-1636 M)
  9. Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M)
  10. Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M)
  11. Sultanah Tajulalam Syafiattudin Syah (1641-1675)
Dari beberapa raja diatas, yang paling terkenal adalah Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya beliau memiliki wilayah yang cukup luas, disamping adanya kemajuan dibidang politik, Ekonomi dan sosial Budaya.

5. DEMAK
            Kerajaan demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Demak sebelumnya merupakan wilayah bagian dari kerajaan Majapahit. Demak mulai melepaskan diri ketika Majapahit mengalami kemundururan. Adapun raja raja penguasa demak adalah
  1. Raden Patah atau Sultan Alam Akbar al Fatah (1500-1518 M)
  2. Pati Unus / Pangeran Sabrang Lor (1518-1521 M)
  3. Sultan Trenggana (1521-1546 M)
Setelah sepeninggalan Sultan trenggana, Demak mulai mengalami kemunduran akibat perebutan kekuasaan dalam lingkungan keluarga.

6. PAJANG
            Kerajaan Pajang sebenarnya merupakan penerus dari kerajaan Demak. Setelah menang dalam perebutan tahta kerajaan dengan Arya Penangsang, Jaka Tinggkir atau Mas Karebet memindahkan kekuasaan Demak ke Pajang. Setelah naik tahta Ia bergelar Sultan Hadiwijaya yang memerintah Pajang dari tahun 1568-1582 M. Kerajaan ini juga tidak berlangsung lama dan segera digantikan oleh Mataram.

7. MATARAM
            Mataram didirikan oleh Sutawijaya yang kemudian ketika naik tahta bergelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayiddin Panatagama. Ia memerintah Mataram dari tahun 1586-1601. Masa pemerintahannya diwarnai dengan peperangan dalam rangka mempertahankan wilayah kekuasaan. Penerus Senopati adalah
  1. Mas Jolang atau Sultan Anyakrawati (1603-1613 M)
  2. Sultan Agung (1613-1645 M)
  3. Amangkurat I (1645-1677 M)
  4. Amangkurat II (1677-1702 M)
  5. Amangkurat III (1703-1708 M)
  6. Pangeran Puger/ Paku Buwono I (1708-1719)
  7. Amangkurat IV/ Paku Buwono II (1719-1727)
Raja Mataram yang paling terkenal adalah Sultan Agung. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mengalami perkembangan yang cukup pesat, baik dalam bidang politik maupun sosial budaya. Selain sebagai raja, Sultan Agung juga terkenal sebagai seorang pujangga. Hal ini terbukti dengan adanya Kitab sastra gending yang merupakan buah karyanya. Sultan Agung juga membuat system penanggalan Jawa yang perhitungannya merupakan gabungan antara system penanggalan Islam (Tahun Hijriah) yang didasarkan pada peredaran bulan dan system penanggalan tahun Masehi yang didasarkan pada perhitungan Matahari. Tahun Jawa memiliki 5 hari.

8. CIREBON
Kerajaan Cirebon dibangun dan diperintah untuk pertama kali oleh Faletehan /Fatahillah atau sering disebut Sunan Gunung Jati pada tahun 1526 M. Pada saat Fatahillah meneruskan pendudukannya di Banten dan Sunda Kelapa, Cirebon diserahkan pada putranya yaitu Pangeran Pasarean. Dan beliau sendiri memerintah di Banten setelah berhasil mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa dan mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Ketika Pangeran Pasarean wafat tahun 1552, Fatahillah kembali ke Cirebon, sedang pemerintahan Banten diserahkan pada purta kedua yaitu Pangeran Sabakingkin atau dikenal dengan nama Hasanuddin. Raja-raja Cirebon setelah Fatahillah adalah
1.      Dipati Swargo
2.      Panembahan Ratu
3.      Dipati Made Gayam
4.      Pangeran Girilaya

9. BANTEN
            Dibawah kekuasaan Hasanuddin (1552-1570), Banten berkembang menjadi kota dagang yang ramai. Banten banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari luar dan banyak yang menetap disana. Sultan Hasanuddin berhasil meluaskan kekuasaannya sampai Lampung dan menguasai daerah lada. Raja-raja setelah sultan Hasanuddin antara lain:
1.      Panembahan Yusuf (1570-1580 M)
2.      Maulana Muhammad (1580-1586 M)
3.      Abdul Mufakir (1586-1640 M) dibawah perwalian Rana Manggala.
4.      Abu Maali Ahmad Rahmatullah (1640-1651 M)
5.      Abdul Fatah (1651-1682 M)
6.      Abdul Kahar (1682-1687 M)

10. BANJAR
            Kerajaan Banjar semula merupakan kerajaan Hindu. Kerajaan ini mengalami proses Islamisasi oleh Sunan Kudus ketika Banjar berhasil mengalahkan kerajaan Negara Daha atas bantuan Demak. Raden Samodra memeluk Islam dan menjadi sultan Banjar yang pertama dengan gelar Sultan Suryanullah atau Sultan Suryanshah.
Raja-raja Banjar setelah Sultan Suryanullah adalah
  1. Sultan Rahmatullah
  2. Sultan Sulaiman
  3. Sultan Alwasikh Billah
  4. Sultan Haji
  5. Sultan Adam
  6. Sultan Tamjidillah
  7. Pangeran Hidayatullah
  8. Pangeran Antasari
Dari beberapa raja diatas, kerajaan Banjar mencapai puncak kejayaan dibawah pemerintahan Pangeran Antasari.

11. MAKASAR
            Pada abad ke 16 di Sulawesi  Selatan terdapat beberapa kerajaan, diantaranya: Goa, Tallo, Bone, Wajo, Sopeng dan Lawu. Goad an Tallo pada masa pemerintahan Tumaparisi Kallona bergabung menjadi kerajaan Makasar. Tokoh pemersatunya adalah Tunipasuruk. Adapun raja-raja Makasar adalah
  1. Sultan Alauddin Awwalut-Islam (1591-1638 M)
  2. Sultan Muhammad Said (1639-1653 M)
  3. Sultan Hasanuddin (1653-1669 M)
  4. Sultan Mapasombha
Kerajaan Makasar mencapai kejayaannya dibawah kekuasaan Sultan Hasanuddin. Kekuasaannya meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur dan daerah Nusa Tenggara.

12. TERNATE
            Pada abad ke 16 diwilayah Maluku terdapat dua kerajaan besar yang saling bersaing yaitu Ternate dan Tidore. Kerajaan Ternate berdiri sejak Abad ke 13 M. Kerajaan ini mulai menjadi kerajaan Islam pada masa pemerintahan Sultan Marhum atau Gapi Baguna (1465-1485 M). Pemerintahannya kemudian diteruskan oleh Sultan Zainal Abidin (1486-1500 M). Pada masa pemerintahannya di bentuk suatu persekutuan bernama Uli Lima (Ternate, Obi, Bacan, Seram dan Ambon). Adapu raja-raja penerusnya adalah
  1. Sultan Sirullah atau Boleife (1500-1522 M)
  2. Sultan Tabariji (1522-1535 M)
  3. Sultan Hairun (1535-1570 M)
  4. Sultan Baabullah (1570-1583 M)
  5. Sultan Saiduddin Barakat (1583-1606)

13. TIDORE 
            Kerajaan Tidore terbentuk dalam waktu yang hampir sama dengan kerajaan Ternate yaitu pada abad ke 13. Raja pertama yang mendapat pengaruh Islam adalah Cirililitati atau Sultan Jamaluddin yang di Islam-kan oleh Syekh Mansyur. Tidore mencapai puncak kejayaan dibawah pemerintahan Sultan Nuku. Wilayah kekuasaannya meliputi Jailolo, Seram, Halmahera, Kai, dan Papua.

                          

PENGARUH DAN PENINGGALAN BUDAYA ISLAM
DI INDONESIA


            Konteks pembicaraan masalah budaya Islam dibawah ini hanya menyangkut
Pengaruh  budaya Islam dan peninggalannya pada masa awal perkembangan Islam di
Indonesia.

1. ARSITEKTUR
a. Seni bangun Masjid
Bangungan masjid peninggalan Islam di Nusantara memiliki ciri-ciri yang khusus, antara lain:
1.      Memiliki bentuk atap tumpang menyerupai meru;
2.      letaknya dekat lingkungan istana dengan pola macapat;
3.      bentuknya bujur sangkar;
4.      terdapat hiasan ukir-ukiran;
5.      terdapat gapura yang menyerupai pintu keraton atau pintu candi;
6.      Mimbar berbentuk teratai;
7.      Mihrab melengkung seperti kepala makara;
8.      Sering didapati adanya makam dilingkungan masjid; dan
9.   Pada halaman depan atau samping terdapat parit.

b. Keraton atau Istana
Bangunan keraton atau istana baik di Jawa maupun di Sumatra pada umumnya memadukan kebudayaan setempat dengan kebudayaan Islam. Ciri-ciri keratin pada umumnya:
1.      Merupakan pusat pemerintahan;
2.      dikelilingi oleh tembok tinggi;
3.      tata letak menggunakan pola macapat;
4.      depannya terdapat gapura yang megah dengan pintu yang kokoh.



c. Makam
            Ciri menonjol dari makam Islam pada waktu itu adalah adanya Nisan yang merupakan bangunan batu yang ditanam diatas kubur. Nisan biasanya dilengkapi dengan zirat dan cungkup. Pada nisan biasanya ditemukan hiasan berupa kaligrafi. Adapun contoh nisan dapat kita lihat di bawah ini, yaitu:
1.      Nisan makam Sultan Malik as Saleh (1297) di Aceh;
2.      Nisan makam Maulana Malik Ibrahim (1419) di Gresik;
3.      Nisan makam Fatimah binti Maemon (1082) di Gresik;
4.      Komplek makam Tralaya dan Trawulan di Mojokerta, dll.

2. SENI SASTRA DAN PEMIKIR ISLAM
            a. Karya sastra
1. Suluk, yaitu karya sastra yang berisi tentang pelajaran tasawuf. Contohnya adalah Suluk Sukarsa, Suluk Wujil, dan Suluk Malang Sumirang.
2. Hikayat, yaitu karya sastra yang berisi cerita sejarah atau dongeng. Contohnya adalah Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bakhtiar, dan Hikayat Hang Tuah.
3. Babad, yaitu tulisan yang isinya meyerupai sejarah, namun isinya tidak selalu didasarkan pada fakta. Contohnya: Babad Cirebon, Babad Tanah Jawi, Sulalat us- Salatin, Tambo Minangkabau, dll.
4. Syair, yaitu karya sastra yang berbentuk puisi berisi puji-pujian. Contohnya: Syair Perahu karya Hamzah Fanzuri, Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambunan, dll.
5. Riwayat dan nasehat, yaitu karya sastra yang mengisahkan riwayat para nabi beserta nasehat-nasehatnya. Contohnya adalah Bustanussalatin, Kitab Manik Maya dan Kitab Ambia, Tajussalatin, Kitab Sasana Suni, dll.

b. Pemikir Islam
                  Perkembangan agama Islam tidak terlepas dari peran para pemikir Islam dan ulama dalam menghasilkan karya-karya yang bernafaskan Islam. Beberapa dari pemikir Islam tersebut adalah
1.      Hamzah Fansuri tokoh Islam yang hidup pada masa Sultan Alaudin Ri ayat Syah al Mukamal (1589-1604).
2.      Syamsuddin As Sumatrani, seorang tokoh ahli tasawuf dan pengarang terkenal pada masa kerajaan Aceh yang hidup dijaman Sultan Iskandar Muda.
3.      Nurudin Ar-Raniri, berasal dari Gujarat datang ke Aceh pada masa Sultan Iskandar Thani.
4.      Abdur Rauf (Syekh Kuah), seorang tokoh yang berasal dari Aceh yang hidup pada masa Sultan Safiatuddin Tajul Alam.

3. SENI PERTUNJUKAN
            1. Seni Wayang
      Wayang sebenarnya merupakan seni pertunjukan asli Indonesia yang hidup di masyarat jauh sebelum datangnya pengaruh Hindu-Budha. Pada masa Islam kesenian tersebut sering digunakan sebagai media dalam penyebaran atau syiar agama Islam. Seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga dengan lakon Jimat Kalimasadha (menceritakan penerimaan wahyu berupa dua kalimah syahadat).

2. Tari Seudati
            Tarian dari Aceh dengan irama lagu-lagu syalawat nabi yang dibawakan dengan gerakan yang cepat, serentak dan dinamis. Biasanya dimainkan oleh 8 orang penari, dll.

4. PROSESI RITUAL
            1. Grebeg Maulid
      Suatu upacara perayaan maulid nabi yang diwarnai dengan adanya unsur budaya lama berupa arak-arakan dan tari-tarian yang diiringi bunyi gamelan dalam sekaten. Prosesi ini terjadi di Jogja sampai saat ini.
2. Prosesi Ritual Kematian
            Adanya selamatan yang dilakukan setelah seseorang meninggal dunia yang disertai dengan tahlil seperti upacara peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dsb.

5. SENI UKIR
Seni ukir sebenarnya merupakan kebudayaan pra Islam. Pada masa Islam  kebudayaan ini masih dipertahankan, hanya saja pola yang dahulu menggambarkan makhluk hidup berupa manusia atau hewan  pada masa Islam di stilir dalan pola daun atau sulur sehingga tidak nampak jelas. Selain itu juga juga berkembang seni ukir dalam bentuk kaligrafi.